Pusat-pusat Penyebaran Islam di Indonesia

Penyebaran Islam di Indonesia - Pada postingan kali ini, Dunia Sejarah akan mengulas mengenai pusat-pusat penyebaran Islam di Indonesia. Bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 Masehi langsung dari Arab. Daerah pertama yang didatangi Islam adalah Pesisir Sumatera dan kerajaan Islam pertama adalah Samudra Pasai. Pada awalnya, Islam disebarkan oleh orang Asing yang beragama Islam; pada tahap berikutnya, umat Islam Indonesia turut aktif dalam penyebaran Islam. Islamisasi dilakukan dengan cara damai dan kedatangan Islam mendorong lahirnya peradaban bangsa Indonesia.

Baca juga: Awal Masuknya Islam ke Asia Tenggara (Indonesia)


Pusat-pusat Penyebaran Islam di Indonesia

Kemudian di mana pusat-pusat penyebaran Islam tersebut? Berikut ulasan ringkasnya.

Pusat-Pusat Penyebaran Islam di Indonesia

  • Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai (Baca: Kesultanan Samudera Pasai) didirikan oleh Malik al-Saleh setelah mendapat dukungan dari masyarakat dalam mengalahkan raja Rajenra I dari India (Samsul Wahidin dan Abdurrahman, 1984). Sultan al-Malik al-Saleh (1297 M) adalah raja pertama dari Kerajaan Samudera. Beliau kemudian menikah dengan putri raja Perlak dan memiliki dua anak. Oleh karena itu, dua kerajaan ini kemudian digabung menjadi kerajaan Samudera Pasai (gabungan antara kerajaan Samudera dengan kerajaan Perlak). Kerajaan ini bertahan lama sampai ditundukan oleh Portugis (1521 M).

Para pedagang muslim mengislamkan penduduk urban; sedangkan di daerah pedalaman tetap melanjutkan tradisi lama mereka. Cerita tentang kerajaan ini terdapat dalam sejumlah literature berdasarkan perjalanan Marco Polo, Ibn Batuthah, dan Fe-Hien (dari China).

  • Malaka
Islam berkembang di Malaka (Baca: Kesultanan Malaka) sepanjang jalur perdagangan. Pendiri kerajaan Malaka adalah Parameswaran (sekitar 1400 M). Kemudian ia mengganti nama menjadi Muhammad Iskandar Syah setelah menikah dengan saudara perempuan raja Pasai.

Pada zaman Muzhaffar Syah (1445-1459 M), Islam disebarkan secara langsung oleh raja (sultan) sehingga mengalami perkembangan pesat dan mampu menguasai perdagangan. Ibu kota kerajaan adalah Johor. Pada tahun 1511 M, Portugis menguasai Malaka, sehingga peran Malaka yang berperan sebagai pusat penyebaran Islam. Ibu kota Malaka dari Johor dipindahkan ke Kepulauan Riau. Aceh kemudian menggantikan peran Malaka sebagai pusat penyebaran Islam dan mempunyai pemerintahan yang kuat.

  • Penyebaran Islam di Aceh
Sultan Aceh pertama adalah Ali Mugayat. Syah; dan kemudian ia diganti oleh anaknya, Ala’ al-Din (1548-1527 M). kesultanan Aceh berhasil menguasai Aru dan Johor; dan bahkan dengan bantuan dari Turki Usmani (1562 M), Aceh menyerang Portugis di Malaka (Siti Maryam dkk, h. 384). Akan tetapi, informasi ini berbeda dengan yang ditulis oleh Tgk. A. K. Jakobi. Menurutnya, Turki Usmani tidak dapat memberikan bantuan (tentara dan materi) ke Aceh karena Turki Usmani ketika itu sedang dilanda konflik dengan tentara Kristen (Tgk. A. K. Jakobi, 1998: 25-26.).

Puncak kejayaan Aceh adalah pada zaman sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). pada masanya, Gayo dan Minangkabau diislamkan. Menurut Thk. A. K. Jakobi, Kerajaan Aceh termasuk salah satu dari lima kerajaan besar yang ada di Dunia Islam pada zamannya. Empat kerajaan lainnya adalah: (1) Kerajaan Islam Turki Usmani di Istanbul (2) Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara; (3) Kerajaan Islam di Isfahan di Timur Tengah; (4) Kerajaan Islam Agra di Anak benua India.

  • Penyebaran Islam di Jawa
Ma Huan menyatakan bahwa pada tahun 1455-1432 M, komunitas muslim di Jawa dibedakan menjadi tiga komunitas: muslim yang berasal dari Barat, Cina, dan Pribumi. Sejarah Islam di Jawa didasarkan pada nisan makam Malik Ibrahim (1419 M); dan makam nisan putrid Campa (1448 M), istri Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir yang mendukung pemkaman istrinya dengan cara masuk Islam.

Putri Campa adalah bibi Raden Rahmat dari Ampel Denta yang diangkat oleh raja sebagai imam umat Islam di Majapahit. Raden Rahmat menyebarkan Islam di sepanjang Jawa. Raden Paku, murid Raden Rahmat, mengislamkan penduduk Giri. Di samping itu, Raden Rahmat juga mengirim Syekh Khalifah Husen ke Madura; akhirnya Islam berkembang di Pulau Jawa atas kerjasama antara penguasa local dengan ulama. Kerjasama itu akhirnya melahirkan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa.

Raden Fatah adalah raja Demak pertama. Dalam menjalankan pemerintahan, ia dibantu oleh ulama (kemudian dikenal denga Wali Songo). Meski pun gagal, Pati Unus (pengganti Raden Fatah) menyerang Malaka yang dikuasai oleh Portugis (1512-1513). Sultan Trenggono (pengganti Pati Unus) telah berhasil melakukan penyebaran Islam da menaklukan Sunda Kelapa, Majapahit, dan Tuban (sekitar 1527 M). daerah-daerah lain yang ditaklukan adalah Madiun, Blora, Surabaya, Pasuruan, Lamongan, Blitar, dan Kediri.

Setelah kerajaan Demak runtuh maka terdapat kerajaan mataram. Pada tahun 1619 ketika Mataram berada dibawah pemerintahan Sultan Agung Praktis seluruh Jawa Timur berada di bawah pemerintahan Islam. Mulai dari sinilah konflik-konflik bersenjata antara Mataram dan VOC mulai terjadi.

Di Jawa bagian barat, telah terdapat kerajaan Islam awal abad ke16 M yang didirikan oleh Syarif Hidayat yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Kerajaan itu dikenal sebagai Kesultanan Cirebon. Dari Cirebon Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa barat seperti Kawali (Galuh), Majalengka, Kuningan, Sunda Kelapa sampai Banten. Kemudian di teruskan oleh putranya yaitu Hasanuddin meluaskan ajaran Islam sampai Lampung dan Sumatera Selatan. Bangsawan Sunda juga banyak yang masuk Islam.

  • Penyebaran Islam di Maluku dan Sulawesi
Penyebaran Islam mencapai Maluku mengikuti jalur perdagangan mulai pertengahan akhir abad ke-15. Data-data lokal menunjukan adanya komunitas Muslim justru sejak masa sebelumnya. Raja Ternate ke 12 yaitu Molomateya (1350-1357) telah bersahabat dengan orang Arab untuk membuat kaligrafi pada kapalnya tetapi bukan berarti dia telah memeluk Islam. Raja Tidore telah menggunakan nama Islam, Hasan Shah, tetapi belum ada komunitas muslim yang besar.

Raja Zainal Abidin (1486-1500) dianggap sebagai raja pertama yang beragama Islam. Tertekan oleh perdaganga Muslim, raja lebih memilih belajar Islam ke Madrasah Giri. Sekembalinya ke Maluku diajaknya Tuhubahahul untuk ikut membantu menyebarkan Islam di kepulauan Maluku. Upaya Portugis untuk melakukan Kristenisasi terhalang. Kedatangan Portugis tahun 1522 memunculkan persaingan penyebaran agama Islam dengan Kristen tetapi usaha portugis tidak begitu berhasil.

Kekuata Islam di wilayah ini didukung oleh kerajaan Gowa dan Tallo yang menjalin hubungan baik dengan Ternate dan Giri di Gresik. Tradisi setempat turut mempercepat menyebarkan Islam. Konflik-konflik internal mulai terjadi seiring camput tangan Portugis dan Belanda. Demak dan Jepara menjadi sekutu kerajaan Hitu melawan kolonisasi Portugis di Ambon.

  • Penyebaran Islam di Kalimantan
Islam di Kalimantan hampir sama dengan daerah lain, yaitu banyak berkembang di daerah pesisir. Islam telah ada sejak abad ke-16 yang dianut oleh sebagian masyarakat Banjarmasin. Islam yang berkembang tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh kerajaan Islam di Jawa yaitu Demak sebagai syarat yang harus dipenuhi Banjarmasin untuk mendapatkan bantuan kekuatan melawan musuhnya.

Di pantai barat laut yang sekarang masuk ke wilayah Brunei, orangorang spanyol telah menemukan kerajaan Islam ketika mereka mendarat di sana tahun 1521. Kemudian menyebar ke Sukadana di Kalimantan Barat pada tahun 1550 dibawa oleh orang-orang Islam dari Palembang. Tahun 1600 agama Islam telah menjadi agama umum rakyat di sepanjang pesisir setalah raja mereka memperistri putri kerajaan Demak pada tahun 1590. Seorang Syeikh dari Mekah bernama Syamsuddin datang ke Sukadana memberikan penghargaan kepada rajanya berupa Kitab Suci Al-Qur’an, cincin berukir, dan piagam serta pemberian gelar kehormatan sebagai Sultan Muhammad Safiuddin (Arnold, 341).

Suku Idaan di Kalimantan bagian Utara memandang orang Islam sebagai bangsa yang lebih mulia dari mereka sendiri. Suku Dayak sejak tahun 1671 sampai tahun 1764 telah banyak yang beralih memeluk agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari masuknya bangsa-bangsa lain dari luar seperti Arab, Bugis, Melayu, Cina yag telah berlangsung sejak abad ke-7. Memang mayoritas Muslim Kalimantan adalah keturunan asingd an bukan penduduk asli.

  • Penyebaran Islam di Bali, Lombok, Sumbawa
Islamisasi di Bali erat hubungannya dengan Jawa. Setelah runtuhnya majapahit oleh Raden Patah, banyak bangsawan Hindu yang melarikan diri ke Bali (1481). Islam yang ada sedikit dan myoritasnya adalah pendatang. Masuknya Islam di Lombok khususnya pada bangsa sasak tidak lepas dari peranan mubaligh bangsa bugis yang telah banyak diislamkan oleh raja Bone. Kemudian bangsa bugis melalui perdagangan dan akibat dari perkawinan maka bangsa bugis yang muslim banyak menetap di Lombok.

Beralihnya orang sasak menjadi Islam membuat Lombok terbagi menjadi dua kelompok yang sangat bertentangan yaitu suku sasak dengan Islamnya dan suku Bali yang masih menganut Hindu. Pada abad ke-18 Bali justru mampu menguasai suku Sasak walaupun komunitas suku Sasak lebih besar. Ketidak seimbangan kekuatan menyebabkan Sasak meminta bantuan pada Belanda pada tahun 1894, barulah Islam dapat berkembang.

Demikianlah ulasan ringkas mengenai pusat-pusat penyebaran Islam di Indonesia. Mudah-mudahan bisa menambah khazanah keislaman kita. Sehingga kita bisa mengambil nilai-nilai luhur yang tersimpan dalam lembaran-lembaran Islam yang masuk ke Indonesia.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pusat-pusat Penyebaran Islam di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel